Ruang 01
Bugis-Makassar
Keluarga RafliSesi ini mengangkat akar Bugis-Makassar dari keluarga Rafli. Busana dan kainnya diwariskan turun-temurun, dan sampai sekarang masih ia jaga.
Foto oleh @fikriipra
Pameran foto digital
Foto prewedding kami, ditata seperti pameran kecil yang bisa dikelilingi lewat ponsel.
Tentang pameran
Kami membuat dua sesi foto prewedding: satu dengan busana adat keluarga, satu lagi dengan gaya yang lebih bebas. Masing-masing punya galerinya sendiri, total delapan ruang.
Galeri 1
Tiga ruang untuk tiga busana adat keluarga kami: Bugis-Makassar dari keluarga Rafli, Jawa dari keluarga ibu Dita, dan Palembang dari keluarga ayah Dita.
Galeri 2
Lima ruang dengan gaya yang lebih bebas: kain dan aksara daerah dengan sentuhan kami sendiri, nuansa Peranakan, kantor tempat kami pertama kenal, dan sesi bergaya mid-century.
Cara berkeliling · 1
Ruangannya akan menyala, lalu panel di bawah menampilkan isi dan beberapa fotonya.
Cara berkeliling · 2
Bisa juga lewat tombol Masuk, atau geser panelnya ke atas. Untuk kembali ke maket, ketuk tombol di kiri atas.
Di dalam ruangan
Baca cerita di balik setiap tema dan lihat foto pilihannya. Ketuk Lihat semua foto untuk membuka album lengkap. Filmnya diputar di bioskop, di ujung pameran.
Cuplikan tidak bisa diputar.
Pameran foto digital
Maket pameran kami: dua galeri, delapan ruang. Pilih ruangan untuk melihat isinya.
Pilih ruangan di maket
Pameran foto digital
Delapan cerita tentang asal kami, cara kami bertemu, dan hal-hal yang ingin kami coba bersama.

Galeri 1
Asal-usul keluarga kami
Tiga ruang untuk tiga garis keluarga: keluarga Rafli, serta keluarga ibu dan ayah Dita.
Ruang 01
Sesi ini mengangkat akar Bugis-Makassar dari keluarga Rafli. Busana dan kainnya diwariskan turun-temurun, dan sampai sekarang masih ia jaga.
Foto oleh @fikriipra
Ruang 02
Darah Jawa Dita berasal dari keluarga ibunya. Sesi ini kami buat untuk keluarga itu, dengan busana Jawa yang anggun dan detail yang halus.
Foto oleh @azharbaizan
Ruang 03
Darah Palembang Dita berasal dari keluarga ayahnya. Busana Aesan Gede dengan emas dan mahkotanya yang megah kami foto sebagai penghormatan untuk keluarga itu.
Foto oleh @byjatidiriono
Tradisi yang berbeda tetap bisa bersanding.

Galeri 2
Dengan gaya kami sendiri
Tradisi dengan gaya kami sendiri, tempat kami pertama bertemu, dan beberapa ide yang kami suka.
Ruang 04
Kain Bugis dan Palembang lahir dari tradisi yang berbeda, masing-masing dengan motif dan tekniknya sendiri. Keduanya sama-sama berani bermain warna.
Saat digantung berdampingan, keduanya jelas berbeda, tapi justru saling melengkapi. Mirip kami berdua.
Foto oleh @byjatidiriono
Ruang 05
Kami menyorotkan aksara Lontara dan aksara Jawa, aksara dari daerah asal keluarga kami, ke tubuh kami. Kami suka bentuknya, juga caranya menyimpan bahasa dan kenangan.
Lewat cahaya, aksara lama itu terasa dekat lagi.
Foto oleh @byjatidiriono
Ruang 06
Sudah lama kami suka budaya Peranakan: warnanya, kebayanya, ornamennya, sampai makanannya. Di sesi ini kami membuat versi kami sendiri.
Warnanya terinspirasi dari Lover, album Taylor Swift favorit kami. Kebetulan, keluarga kami pertama kali bertemu saat makan di restoran Peranakan.
Foto oleh @azharbaizan
Ruang 07
Kami pertama kenal sebagai rekan kerja di Bappenas. Menteng jadi rute kami setiap hari: kantor, jalan di sekitarnya, dan obrolan kecil di sela jam kerja.
Foto-foto ini membawa kami kembali ke masa itu, waktu kami belum tahu rutinitas biasa itu adalah awal cerita kami.
Foto oleh @fikriipra
Ruang 08
Di sesi ini kami mencoba sesuatu yang mungkin tidak disangka orang: busana, warna, dan suasana bergaya mid-century, juga sisi lain dari diri kami.
Sesi ini kami buat untuk bersenang-senang, sekaligus melihat diri kami dengan cara baru.
Foto oleh @azharbaizan
Epilog
Pamerannya selesai di sini. Ceritanya berlanjut di film prewedding kami.
Tonton filmnya (membuka OneDrive di tab baru)